Tips Investasi Saham yang Sehat

Tips Investasi Saham yang Sehat

Tips Investasi Saham yang Sehat – Pada intinya, investasi saham merupakan kegiatan penanaman modal ataupun pembelian saham terhadap sebuah perusahaan. Pastinya kita semua sudah tahu bahwa modal merupakan kunci utama dalam menjalankan suatu bisnis. Nah, investasi saham dapat dikatakan serupa dengan memulai bisnis tersebut.

Hanya saja, dalam hal ini kita tidak memulai segalanya dari nol, melainkan turut berkontribusi menanamkan modal kepada perusahaan yang sudah ada atau yang sudah terbentuk.

Bagaimana cara menanamkan modalnya? Yaitu dengan membeli saham dari perusahaan yang kita inginkan. Ketika sudah membeli saham, maka secara tidak langsung kamu sudah menjadi pemilik dari perusahaan tersebut dan berhak mendapatkan bagian dari keuntungan yang pada nantinya didapatkan oleh perusahaan.

Masyarakat tengah dihebohkan dengan kasus PT Jouska Finansial Indonesia, karena jasa penasihat atau perencana keuangan ini membuat kliennya harus kehilangan puluhan bahkan ratusan juta dalam berinvestasi. Tentu kamu tidak ingin kejadian seperti ini menimpa kamu.

Investor seharusnya melakukan diversifikasi dalam berinvestasi

Idealnya, kamu harus menyebarkan investasi pada beberapa instrumen investasi saham. Ini penting agar kamu dapat mengurangi risiko kerugian karena saham atau perusahaan tertentu.

Oleh karena itu, investor biasanya menyebar investasi mereka ke lima hingga 15 perusahaan.

Jangan membeli saham di harga yang terlalu mahal

Ada berbagai cara untuk menentukan harga saham yang layak. Sebagai contoh rekomendasi untuk membeli saham LUCK pada harga Rp1.457,84 per saham dapat dikategorikan sebagai overpriced alias kemahalan.

Bandingkan dengan sejumlah rasio yang bisa dijadikan patokan bagi investor sebelum memutuskan membeli saham tertentu, misalnya price earning ratio (PER) dan price book value ratio (PBV).

Jika dibandingkan kedua rasio tersebut untuk PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) dengan rasio tiga emiten lain yaitu: PT Astra Graphia Tbk (ASGR), PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) pada tanggal yang sama, akan terlihat perbedaannya.

Rasio pertama yakni PER. Dengan membandingkan PER emiten-emiten tersebut, investor dapat melihat pendapatan bersih perusahaan berbanding dengan harga saham dan jumlah saham yang beredar. Dengan pendapatan bersih sebesar 5.3 miliar, LUCK di harga Rp1.458 memiliki PER sebesar 137.5 kali dari pendapatan per-lembar sahamnya. Sementara itu, tiga emiten pada industri yang sejenis hanya memiliki PER belasan saja, walaupun telah memiliki pangsa pasar yang lebih besar.

Rasio kedua yang digunakan adalah PBV. Rasio ini didapat dengan membagi harga per lembar saham dengan nilai buku atau ekuitas dari emiten per lembar saham. Ekuitas adalah total aset perusahaan, dikurangi dengan semua hutang perusahaan. Artinya jika dalam kasus terburuk perusahaan bangkrut dan dilikuidasi, maka pemegang saham akan dibagikan nilai buku dari perusahaan.

Waspada ketika berinvestasi di saham dengan volume kecil

Hal lain yang menjadi pertimbangan berikutnya adalah likuiditas, atau volume transaksi. Ketika berinvestasi, salah satu aspek yang diperhatikan adalah seberapa besar volume transaksi jual-beli lembar saham yang bisa ditransaksikan di dalam kurun waktu tertentu.

Volume transaksi yang kecil dapat mengakibatkan fluktuasi nilai yang sangat besar. Nilai saham dapat meningkat atau menurun sangat drastis dengan angka transaksi yang kecil. Dalam kasus saham LUCK, sayangnya itu menurun dengan sangat drastis.

Pada 9 Agustus 2019, hanya dengan volume transaksi sebesar Rp21.817.600, harga saham LUCK menurun sebesar minus 21.9 persen dari Rp1.895 per saham menjadi Rp1.480 per saham.