Singapura Buka Pintu bagi WNI Berkunjung Dinas dan Bisnis

Singapura Buka Pintu bagi WNI Berkunjung Dinas dan Bisnis

Singapura Buka Pintu bagi WNI Berkunjung Dinas dan Bisnis – Singapura dan Jepang akan membuka pintu kedatangan untuk pertama kalinya bagi perjalanan bisnis dan kunjungan resmi antar kedua negara mulai 18 September 2020.

Setelah beberapa bulan melakukan negosiasi, akhirnya Pemerintah Singapura bersedia membuka pintu bagi WNI. Namun, kesepakatan itu dibatasi untuk kunjungan bisnis dan perjalanan dinas. Artinya, Negeri Singa masih menutup pintu bagi turis dari Indonesia.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan kesepakatan itu diberi nama Travel Corridor Arrangement (TCA). Sedangkan, oleh Negeri Singa disebut reciprocal green lane. Kesepakatan tersebut bersifat resiprokal. Artinya, Indonesia juga bersedia membuka pintunya bagi pengusaha dan warga Negeri Singa yang melakukan perjalanan dinas ke Tanah Air.

Ia juga menjelaskan akses perjalanan terbatas ini mulai berlaku pada 26 Oktober 2020. Bagi WNI atau warga Singapura yang ingin berkunjung, maka mereka harus melakukan pengajuan ke otoritas masing-masing.

Apa saja persyaratan yang harus dipenuhi oleh kedua negara agar mereka bisa mulai saling berkunjung? Kapan WNI bisa kembali berwisata ke Negeri Singa? mari kita simak rangkuman dari junglepartyhostal.com dibawah ini.

Sebelum berangkat, harus dilakukan tes PCR sebanyak dua kali

Sebelum berangkat, warga kedua negara harus melakukan tes PCR atau usap sebanyak dua kali. Tes PCR pertama, kata Retno, dilakukan 72 jam sebelum berangkat menuju ke Indonesia atau Singapura. Sedangkan, tes PCR kedua dilakukan ketika tiba di bandara atau terminal feri.

Selain itu, institusi yang berhak untuk melakukan tes usap pun juga diatur oleh Kementerian Kesehatan dua negara. Hal lain yang perlu dilakukan warga kedua negara yaitu memasang aplikasi untuk melacak pergerakan mereka.

Selama berada di Singapura, WNI wajib memasang aplikasi Trace Together di ponselnya. Sebaliknya, warga Singapura wajib memasang aplikasi Peduli Lindungi dan e-HAC.

Menyediakan Protokol Mulai Dari Sebelum Keberangkatan Hingga Sesudah Kedatangan

WNI yang ingin ke Singapura harus memiliki sponsor dari pemerintah atau perusahaan Negeri Singa

Meski pintu menuju ke Singapura dibuka, namun mereka menerapkan sederet persyaratan yang ketat. Negeri Singa tak ingin kebobolan kasus impor COVID-19. Apalagi Indonesia masih memiliki tingkat kematian yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan pada Minggu, 11 Oktober 2020, ada 11.844 pasien yang meninggal dunia akibat COVID-19. Sedangkan, angka kematian akibat COVID-19 di Singapura bisa ditekan hanya 27 pasien.

Menlu Retno memastikan prosedur dan standar menyangkut kesehatan tidak akan diabaikan. Ia mengatakan warga yang dapat saling berkunjung adalah warga kedua negara dan permanent resident Singapura yang perlu menjalankan perjalanan dinas, diplomatik yang mendesak atau perjalanan business essential.

Warga Singa, kata dia lagi, harus mengajukan akses masuk berupa visa secara daring kepada Direktorat Jenderal Imigrasi. Warga kedua negara hanya bisa keluar masuk melalui dua titik. Titik masuk ke Indonesia berada di Bandara Soekarno-Hatta untuk perjalanan udara. Sedangkan, titik masuk di Singapura ada di Bandara Changi.

Sementara, untuk perjalanan jalur laut, titik masuk menuju ke RI berada di Batam Center Ferry Terminal. Sedangkan, titik masuk jalur laut menuju ke Singapura ada di Tanah Merah Ferry Terminal.

Mengendalikan Jadwal Kunjungan Pendatang Selama 14 Hari Pertama di Negara Kedatangan

Jokowi dan Perdana Menteri Singapura dijadwalkan bertemu pada November dalam acara Leader’s Retreat

Sebelumnya, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Suryapratomo mengatakan pengaturan TCA ini dibutuhkan untuk memudahkan terjadinya pertemuan dua kepala negara atau yang lazim disebut Leader’s Retreat. Pada 2020 ini, Indonesia direncanakan menjadi tuan rumah. Selain itu, ada pula pertemuan antarmenteri luar negeri dua tahun sekali dan pertemuan menteri di bidang ekonomi yang tergolong rutin.

Pria yang akrab disapa Tomi itu menjelaskan, rencananya pertemuan antara Jokowi dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong dilakukan di Jakarta sekitar November mendatang.

Singapura, katanya lagi, tidak keberatan bila pertemuan dilakukan secara tatap muka, namun dengan memberlakukan pengurangan delegasi yang mendampingi. Melalui pertemuan itu, kedua pemimpin ingin menunjukkan ke publik hubungan dua negara sangat baik meski tengah dilanda pandemik.