Microsoft Berencana Ingin Beli Seluruh Bisnis TikTok

Microsoft Berencana Ingin Beli Seluruh Bisnis TikTok

Microsoft Berencana Ingin Beli Seluruh Bisnis TikTok – Microsoft dikabarkan sedang bernegosiasi dengan ByteDance untuk membeli bisnis global TikTok.

Informasi ini dilaporkan pada Kamis awal Agustus 2020 dengan mengutip lima orang yang mengetahui persoalan tersebut.

Dilansir dari https://creative-kids.info Microsoft berniat membeli TikTok yang beroperasi di Amerika Serikat, Selandia Baru dan Australia. Niat itu ditegaskan, setelah CEO Microsoft Satya Nadella bertemu dengan Donald Trump pada akhir pekan kemarin, menyusul ancaman Trump akan memblokir TikTok dari negara tersebut.

1. Microsoft belum memberikan pernyataan resmi 

Meski muncul laporan tersebut, tapi sumber yang familiar dengan negosiasi mengatakan kepada Reuters bahwa Microsoft belum mengumumkan wacana membeli semua bisnis TikTok. Platform video pendek itu memang tengah populer di kalangan anak-anak muda di seluruh dunia.

Menurut Datareportal, per 2020 ini ada sebanyak 800 juta pengguna aktif TikTok per bulan secara global. Tidak heran raksasa teknologi seperti Microsoft melihat potensi besar dari aplikasi tersebut sehingga mempunyai niat untuk mengakuisisinya.

2. Trump memblokir TikTok 

Sementara, pada hari yang sama Trump menandatangani perintah eksekutif yang memblokir semua transaksi warga atau entitas Amerika Serikat dengan TikTok karena alasan kepentingan keamanan nasional.

ByteDance sendiri berada dalam posisi sulit karena diberi hanya dua pilihan yaitu menjual TikTok di Amerika Serikat kepada perusahaan di negara itu, contohnya Microsoft, atau terancam diblokir.

3. Amerika Serikat mengklaim TikTok menyuplai data pengguna di negara itu kepada pemerintah Tiongkok 

Dalam wawancara dengan Fox News pada akhir pekan lalu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengklaim pemerintah Amerika Serikat menemukan bukti bahwa TikTok termasuk salah satu aplikasi yang memberikan data secara langsung kepada Partai Komunis di Tiongkok.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah akan mengambil langkah-langkah dengan mempertimbangkan serangkaian risiko keamanan nasional secara luas yang ditimbulkan oleh perangkat lunak yang terhubung ke Partai Komunis tersebut.

The Washington Post juga pernah mempublikasikan berita pada September tahun lalu mengenai penyensoran konten yang dinilai sensitif oleh TikTok.

Menurut para peneliti, TikTok di Tiongkok tetap tersandera oleh ide rezim berkuasa tentang konten yang layak dan penyensorannya, dan mereka mengarah ke bagaimana Partai Komunis menggunakannya sebagai alat propaganda untuk audiens muda.

Berdasarkan riset, ditemukan bahwa jumlah unggahan dengan tagar #antielab yang sangat populer dipakai para demonstran pro-demokrasi Hong Kong di TikTok hanya sebanyak 11.

Sementara di Instagram, tagar yang sama terdapat dalam lebih dari 34.000 unggahan. Kemudian, pencarian tagar #HongKongProtests dan #HongKongProtestors menghasilkan nol unggahan.

“Kami tak pernah menyediakan data pengguna kepada pemerintah Tiongkok, kami tidak akan melakukannya juga jika diminta,” kata dia.