Mengawali New Normal dengan Angka Kasus COVID-19 yang Melesat

PSBB Transisi sudah bisa dianggap gagal nggak, ya?

New Normal COVID-19 – Sejak Jumat (05/06) lalu, beberapa kota di Indonesia yang menerapkan PSBB, telah memulai masa PSBB Transisi menuju new normal. Tercatat pada hari pertama transisi, pasien COVID-19 bertambah hingga 102 orang. Berlanjut ke hari kedua menjadi 160 orang. Percepat ke hari Rabu, tanggal 10 Juni 2020, penambahan pasien COVID-19 di Indonesia melonjak ke angka 1241 orang, serta kemarin, (11/60) bertambah lagi hingga 979 Orang. Sehingga, per tanggal 11 Juni 2020, angka positif COVID-19 adalah 35.295, sembuh 12.636, meninggal dunia 2000.

“Kalau kemudian kita teliti lebih lanjut, besaran angka ini kita lihat pada beberapa provinsi yang masih cenderung tinggi, di antaranya adalah Jawa Timur, hari ini melaporkan 297 kasus positif baru,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (11/6).

Sementara itu, data provinsi 5 besar dengan kasus positif terbanyak secara kumulatif adalah mulai dari DKI Jakarta 8.650 orang, Jawa Timur 7.103, Jawa Barat 2.551, Sulawesi Selatan 2.524, Jawa Tengah 1.832 dan wilayah lain sehingga totalnya 35.295.

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar pusat bisnis dan perkantoran sudah kembali aktif secara resmi. Sejak Senin (8/6) lalu dan mereka yang sempat memutuskan pulang kampung sebelum Hari Raya Idul Fitri. Sudah kembali aktif bekerja. Berarti, bukan tidak mungkin jika rakyat Indonesia juga harus bersiap ketika ada kemungkinan melesatnya angka pertambahan pasien COVID-19, satu hingga dua minggu dari sekarang.

Mengawali New Normal dengan Angka Kasus COVID-19 yang Melesat

Baca juga: DKI Jakarta Pangkas Subsidi untuk MRT

Mengutip dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Presiden Indonesia, Joko Widodo. Mengingatkan pentingnya perhitungan yang cermat dalam mengambil kebijakan. Yang harus berdasarkan data dan fakta di lapangan. Terkait hal ini, Presiden meminta setiap kepala daerah yang ingin memutuskan daerahnya masuk ke fase adaptasi kebiasaan baru atau “new normal”, agar berkoordinasi dengan Gugus Tugas. Apakah daerahnya sudah siap atau belum.

“Datanya seperti apa, pergerakannya seperti apa, faktanya seperti apa, karena saya lihat di sini datanya ada semua. Jadi lihat perkembangan data epidemiologi terutama angka Ro dan Rt. Perhatikan juga tingkat kepatuhan dan masyarakat. Pastikan manajemen di daerah siap atau tidak melaksanakan,” jelasnya.

Presiden pun menegaskan, “Perlu saya ingatkan jika dalam perkembangan ditemukan kenaikan kasus baru. Maka langsung akan kita lakukan pengetatan atau penutupan kembali.”

Sumber: Popbela.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *