Fakta-fakta Kemudahan Bisnis dan Investasi di RI

Fakta-fakta Kemudahan Bisnis dan Investasi di RI yang Tertinggal Jauh

Fakta-fakta Kemudahan Bisnis dan Investasi di RI – Bank Dunia atau World Bank Group merilis laporan kemudahan berusaha atau ease of doing business (EoDB) 2020 dari 190 negara di dunia. Dalam laporan EoDB Bank Dunia itu disebutkan, Indonesia kini tercatat terus memperbaiki iklim berusahanya.

Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja telah disahkan menjadi Undang-Undang pada Senin. Terlepas dari polemik yang menyelimutinya, beleid tersebut dinilai bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemudahan bisnis di Indonesia atau Ease of Doing Business (EODB).

Tak dipungkiri  kemudahan berbisnis di Indonesia saat ini mandek di peringkat 73 dunia dan 6 di ASEAN. Di saat pemerintah ingin meningkatkan investasi di dalam negeri, justru kemudahan berbisnisnya masih belum cukup untuk semakin meyakinkan investor.

Indeks Kemudahan Berbisnis atau Ease of Doing Business adalah suatu indeks yang dibuat oleh Bank Dunia. Peringkat yang tinggi menunjukkan peraturan untuk berbisnis yang lebih baik (biasanya yang lebih sederhana), dan kuatnya perlindungan atas hak milik.

Penelitian empiris yang didanai oleh Bank Dunia untuk membuktikan manfaat dari dibuatnya indeks ini, menunjukkan bahwa efek dari perbaikan berbagai peraturan terhadap pertumbuhan ekonomi sangatlah besar.

Dikutip dari riset Lifepal, icsdchurches.com merangkum fakta-fakta peringkat kemudahan bisnis dan investasi asing langsung di Indonesia.

Kemudahan berbisnis Indonesia di peringkat 73 dunia, kalah dari Singapura di peringkat 2 dunia

Singapura tercatat berada pada peringkat 2 di dunia atau peringkat 1 di ASEAN pada tahun 2019, sedangkan Indonesia tercatat pada peringkat 73 di dunia atau peringkat 6 di ASEAN. Sedangkan peringkat terakhir di ASEAN ditempati oleh Laos. Laos konsisten dari tahun 2010 sampai 2019 selalu menempati peringkat terakhir.

Indonesia Masih Tertinggal Dengan Negara Tetangga

Indonesia mengalami kenaikan peringkat dari 2010 sampai 2019. Di 2010, Indonesia berada di peringkat 126, tapi di 2019 sekarang indonesia berada di peringkat 73. Riset Bank Dunia menyebutkan, perusahaan yang beroperasi di negara berkembang kesulitan membayar upah minimum karena rasionya terlalu tinggi jika dibandingkan dengan median laba yang dibukukannya. Hal serupa tidak terjadi di negara maju. Ini bisa menjadi alasan bahwa peringkat ease of doing business negara-negara berkembang di ASEAN cenderung stagnan.

Ada beberapa hal yang menjadikan Singapura menjadi negara terbaik di ASEAN dalam hal indeks kemudahan berbisnis. Singapura dapat secara konsisten mencapai skor yang baik dalam hal risiko politik, produktivitas tenaga kerja, kualitas hidup, pajak yang atraktif, infrastruktur, dan efisiensi birokrasi.

Mengukur kemudahan berbisnis

Kemudahan berbisnis dapat diukur sejak akan mulainya suatu bisnis, sampai dengan apabila suatu bisnis berjalan tidak sesuai dengan rencana, di mana mengalami masalah atau kesulitan. Salah satu permasalahan atau kesulitan tersebut yang terjadi adalah masalah kesulitan keuangan yang mengakibatkan debitur tidak mampu membayar atau gagal bayar atas kewajiban atau utang-utangnya kepada kreditur.

Oleh karenanya, untuk tetap dapat mendorong agar bisnis yang mengalami kesulitan keuangan dapat tetap bertahan. Maka negara harus menyediakan ketentuan kebangkrutan atau kepailitan yang efisien dengan proses cepat dan berbiaya murah.

Mengurangi Kesenjangan Terhadap Praktik Terbaik Global

Indonesia di peringkat kedua ASEAN soal besaran Foreign Direct Investment, tetap kalah dari Singapura

Meski kemudahan berbisnis tertinggal jauh dari Singapura, namun dalam hal investasi langsung,  Indonesia tidak tertinggal jauh.

Singapura lah yang tercatat menerima Foreign Direct Investment terbesar. Berdasarkan Singapore Department of Statistics (DOS), Amerika Serikat adalah negara yang memberikan FDI terbesar kepada negara tersebut.

Indonesia tercatat menempati peringkat kedua penerima FDI terbesar di antara negara-negara ASEAN. Berdasarkan data BKPM, Indonesia mendapat FDI terbesar dari Singapura.

Sementara itu negara-negara yang berada di bawah rata-rata adalah Malaysia, Vietnam, Filipina, Laos, Kamboja, Thailand, dan Brunei.