Bisnis Properti Kos-Kosan Terdongkrak, karena Harga Properti yang Kian Mahal

Bisnis Kos Terdongkrak Harga Properti yang Kian Mahal

Bisnis properti – Sektor properti tahun ini berpotensi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menangkap peluang itu, perlu kreatifitas dari pelaku industri untuk menyediakan hunian yang digemari saat ini seperti hunian co-living termasuk rumah kos.

Anton Sitorus, Department Head Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia mengatakan, agar pertumbuhan sektor properti lebih maksimal, harus didukung oleh kreatifitas dalam mengemas produk yang menarik, terutama harga.

“permintaan besar, tetapi untuk bisa tumbuh pengembangnya harus kreatif dalam membuat  produk, dan harga terjangkau. Jika itu terpenuhi, saya yakin market meningkat,” katanya.

Baca juga : Berniat Menjajal Bisnis Jual-Beli Apartemen? Pahami 4 Hal Ini Dulu!

Menurutnya, salah satu konsep yang saat ini tengah digemari adalah co-living. Namun kata dia, Bahkan, jika konsep Co-living ditawarkan dengan harga tinggi, pembelinya pasti akan terbatas.

“Market co-living pasartnya seperti properti yang lain, asalkan harga cocok,” katanya
Hal senada diungkapkan Diirektur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Menurutnya, IDN POKER APK ANDROID saat ini harga properti sudah sangat tinggi sehingga kesulitan untuk dijual. “Namun masih ada juga investor yang membeli, dengan harapan harganya akan terus naik. Padahal, pasar properti sa,a seperti ekonomi mempunyai siklus pasar, ini sering kali di abaikan oleh investor,” katanya.

Bisnis Properti terdongkrak

Tak heran jika saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menyewa dibandingkan untuk membeli, terutama dikota-kota besar. Bahkan dalam survei yang dilakukan oleh IPW, generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti.

“Hasil survei kami sekitar 47,4 persen pilih tinggal di kos-kosan, kemudian sebanyak 47,1 persen berkeinginan untuk tinggal di apartemen, sedangkan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara,” katanya.

Dengan penghasilan rata-rata kaum milenial berkisar Rp 6 juta-Rp 7 juta per bulan artinya mereka hanya mampu membeli properti dengan cicilan Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan atau seharga Rp 200-300 jutaan.

Dengan rentang harga tersebut sulit untuk mereka mendapatkan properti di Jakarta. Itu sebabnya, milenial lebih memilih menyewa apartemen atau kosan.

Generasi Milenial

Berdasarkan riset IPW, saat ini ada sebanyak 33,9% kaum milenial tinggal di kos atau apartemen dengan biaya sewa dibawah Rp 2 juta/bulan. Lalu sebanyak 38,5% menyewa dengan harga Rp 2-3 juta/bulan, dan 21,6% menyewa dengan harga di atas Rp 3 juta/bulan.

Besarnya pasar kosan di kota-kota besar ini diakui oleh PT Hoppor International. Perusahaan yang dikenal dengan nama Kamar Keluarga itu mengatakan bahwa setiap tahunnya penyewa kosan terus tumbuh.

Hal itu juga yang membuat Kamar Keluarga meluaskan jaringanya di kota-kota besar. Selama dua tahun berdiri, Kamar Keluarga kini memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi di Jabodetabek dan Bandung. “Kami akan terus melihat setiap potensi pengembangan bisnis kosan. Hal ini untuk menjawab kebutuhan pasar,” ujar CEO Kamar Keluarga Charles Kwok.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, Kamar Keluarga tahun ini akan melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana hasil IPO tersebut sebagian besar akan digunakan untuk menambah jaringan dibeberapa daerah.

Selain mendirikan kos sendiri, Kamar Keluarga sejatinya juga membuka peluang kepada para pemilik aset berupa tanah atau properti yang mengganggur untuk dijadikan produktif dan serta menghasilkan passive income.

“Sistemnya bagi hasil, Kamar Keluarga akan menjadikan lahan atau bangunan tidak produktif menjadi kamar kos atau hunian co-living. Nantinya pemilik akan mendapat uang sewa jangka panjang 10 tahun hingga 25 tahun,” pungkas Charles.

Anton memang melihat tahun ini adalah waktu yang tepat untuk mencari dana segar dipasar. Terutama bagi perusahaan properti segmen menengah yang fokus disegmen harga terjangkau.

“Sebenarnya ini kesempatan bagi pemain baru pengembang untuk masuk bursa dan fokus di segmen harga terjangkau, itu yang prospektif. Jadi menurut saya ini momen tepat,” kata Anton.

Sumber : Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *